Sabtu, 31 Mei 2014

Menguak Misteri Rumoh Geudong


Diantara sederet kisah luka di Aceh, Rumoh Geudong (Pos Sattis, -Kopassus) memang memiliki sebuah kisah dan sejarah tersendiri bagi rakyat Aceh. Ditengah isu politik pada masa akan dicabutnya Daerah Operasi Militer (DOM) pada tanggal 7 Agustus 1999 saat jendral Wiranto menjabat, semakin terbuka peluang atas pengungkapan berbagi kasus kejahatan HAM yang terjadi di Aceh.

Rumoh Geudong terletak di desa Billie Aron, Kecamatan Geulumpang Tiga, Kabupaten Pidie, atau berjarak 125 kilometer dari pusat kota Banda Aceh. Kabupaten Pidie ini menempati posisi Lintang Utara 4,39-4,60 derajat dan Bujur Timur 95,75-96,20 derajat.

Menurut alkisah dari penuturan ahli waris Rumoh Geudong ini dibangun pada tahun 1818 oleh Ampon Raja Lamkuta, putera seorang hulubalang yang tinggal di Rumoh Raya sekitar 200 meter dari Rumoh Geudong. Pada masa penjajahan oleh Belanda, rumah tersebut sering digunakan sebagai tempat pengatur strategi perang yang diprakarsai oleh Raja Lamkuta bersama rekan-rekan perjuangannya.

Namun, Raja Lamkuta akhirnya tertembak dan syahid saat digelarkan aski kepung yang dilakukan oleh tentara marsose di Pulo Syahi, Keumala berkat adanya informasi yang di dapat dari informan (cuak, dalam bahasa Aceh). Jasadnya Raja Lamkuta dikuburkan dipemakaman raja-raja di Desa Aron yang tidak jauh dari Rumoh Geudong.

Tidak berhenti begitu saja perjuangan Raja Lamkuta, adiknya Teuku Cut Ahmad akhirnya mengambil alih lagi ketika baru berusia 15 tahun untuk memimpin perjuangan terhadap Belanda, namun beliau juga syahid ditembak oleh Belanda yang mengepung Rumoh Geudong.

Pada masa-masa berikutnya, Rumoh Geudong ditempati secara berturut-turut oleh Teuku Keujren Rahman, Teuku Keujren Husein, Teuku Keujren Gade. Selanjutnya pada masa Jepang masuk dan menjajah Indonesia hingga merdeka, rumah tersebut ditempati oleh Teuku Raja Umar (Keujren Umar) anak dari Teuku Keujren Husein. Setelah Teuku Raja Umar meninggal, rumah ini ditempati anaknya Teuku Muhammad.

Pengurusan Rumoh Geudong sekaran ini dipercayakan kepada Cut Maidawati anaknya dari Teuku A. Rahman. Teuku A. Rahman mewarisi rumah tersebut berdasarkan musyawarah keluarga, dari ayahnya yang bernama Teuku Ahmad alias Ampon Muda yang merupakan anak Teuku Keujren Gade.

Laksana Peti Mati

Sebelum Rumoh Geudong digunakan sebagai pos militer (Pos Sattis) sejak April 1990. Masih menurut ahli waris, penempatan sejumlah personal aparat militer pada saat itu hanya sementara, tanpa sepengetahuan pemiliknya. Sebenarnya pemilik Rumoh Geudong merasa keberatan, namun para anggota Kopassus yang terlanjur menjadikan rumah tersebut menjadi pos militer sekaligus “rumah tahanan” dan tidak mau pindah lagi.
Baru pada tahun 1996, dibuatlah sebuah surat pinjam pakai rumah yang ditandatangani Muspika setempa, tetapi sayang tanpa ada tanda tangan pemilik rumah. Rumah ini juga terkenal angker karena dihuni oleh makhlus halus, sehingga para anggota aparat yang bertempat disitu sering diganggu.

Memang ikhwal adanya sebuah peti mati yang berisikan kain kafan berlumuran darah di Rumoh Geudong cukup membuat mistis para penghuninya. Dari peti mati inilah sering keluar makhlus halus yang berwujud harimau. Menurut penuturan dari pemilik rumah ini, kain kafan yang berlumuran darah dalam peti tersebut merupakan milik nenek dari hulubalang pemilik Rumoh Geudong yang meninggal dunia karena diperlakukan secara kejam oleh Belanda.

Ada gangguan yang memang dirasakan oleh para aparat di tempat itu, misalnya aparat yang beragama non muslim yang tidur di rumah atas (rumah Aceh), secara tiba-tiba ‘diturunkan’ ke rumah bawah. Pada tahun 1992, sempat terjadi juga penembakan yang dilakukan oleh seorang anggota Kopassus yang menembak mati temannya sendiri karena ia bermimpi didatangi harimau yang menyuruhnya menembak temannya itu.

Karena beberapa peristiwa ini sering mengganggu, aparat militer hanya bertahan beberapa bulan saja di Rumoh Geudong di Desa Bilie Aron dan kemudian terpaksa pindah ke Desa Amud. Namun, karena alasan kurang strategis untuk sebuah pos operasi militer, anggota Kopassus memindahkan lagi posnya dari Amud ke Rumoh Geudong dengan meminta bantuan seorang ulama terkenal, Abu Kuta Krueng untuk memindahkan makhlus halus yang sering menghantui mereka yang berada di dalam peti mati melalui sebuah acara ritual kenduri (hajatan kecil).

Sebelum Ditarik Kopassus Masih Menculik

Selasa 18 agustus 1998, Dua anggota Kopassus masih mencoba menculik keluarga salah seorang korban di Desa Nibong, Ujong Rimba, Kecamatan Mutiara, kendati pasukannya sudah akan ditarik dari Pidie ke Lhokseumawe. Korban penculikan itu adalah keluarga Mohammad Yunus Ahmad, korban penculikan, 28 Maret 1998 lalu yang hingga kini belum kembali. Rumah Yunus di Desa Nibong, didatangi dua anggota Koppasus yang mengendarai mobil Toyota Kijang bernomor polisi BK 1655 LR.

Kopassus semula hendak mengangkut istri Yunus, Ny Zaubaidah Cut (37 tahun). Zaubaidah kebetulan tak ada di rumah. Karena kecewa, Kopassus yang dari Pos Sattis Bilie Aron itu, mengambil ibu Ny. Zaubidah dan seorang anak Yunus yang masih berusia 15 tahun. Karena belum berhasil membawa Ny Zaubaidah, dua anggota Kopassus itu memarkir mobilnya di simpang jalan Blang Malu menunggu kedatangan Ny Zaubaidah.

Penduduk yang mengetahui penculikan ibu, anak dan rencana penculikan Ny Zubaidah, menunggu Ny Zaubaidah di persimpangan lainnya dan mencegat perempuan itu pulang ke rumah. Penduduk kemudian membawa Ny Zaubaidah ke Sub Den-POM, Sigli. Kepala Sub Detasemen Polisi Militer (POM) Sigli Lettu CPM Hartoyo, menelepon Koramil Mutiara agar mobil Kijang Kopassus itu ditahan.

Dua anggota Koramil Mutiara dengan sepeda motor menahan dua anggota Kopassus itu. Petugas Koramil itu kemudian menggiring mobil Kijang Kopassus hingga ke Markas Koramil Mutiara. Namun, sebelum petugas POM datang ke Koramil Mutiara, kedua angota Kopassus sudah kabur. "Saya akan cari mereka itu. Saya belum tahu namanya. Bisa jadi mereka oknum, atau cuak-cuak itu," kata Hartoyo.***

Tak Ada Lagi Jerit Kesakitan Di Rumoh Geudong

Warga sekitar Rumoh Geudong (rumah gedung), markas Kopassus yang dipakai sebagai tempat penahanan dan penyiksaan terhadap masyarakat Aceh, tidak lagi mendengar teriakan kesakitan dan menyaksikan penyiksaan yang dilakukan Kopassus. Perasaan lega masyarakat itu muncul seiring ditariknya pasukan ABRI dari seluruh wilayah Aceh.

"Kami sudah tak sanggup lagi mendengar dan menyaksikan orang-orang disiksa di Rumoh Geudong itu. Kalau malam, tidur kami sering terganggu karena mendengar jeritan-jeritan orang yang disiksa. Atau mendengar lagu-lagu dari tape yang diputar keras-keras waktu penyiksaan," kata seorang warga Desa Aron, tempat marksa Kopassus itu berada. Kepergian Kopassus dari Aron disambut gembira masyarakat sekitar. Namun begitu, pemilik Rumoh Geudong mengeluh. Kopassus meninggalkan tagihan jutaan rupiah untuk rekening telepon.

"Mereka suruh kami menagih pembayarannya sama bupati," kata pemilik rumah itu. Selama operasi Jaring Merah dilancarkan di wilayah itu, Pemda Pidie sudah cukup banyak mengeluarkan dana untuk biaya operasional Kopassus. Dana yang sebenarnya milik rakyat Pidie itu dipakai Kopassus untuk membayar rekening telepon, listrik, sewa rumah, kendaraan, dan sebagainya. "Tragisnya dana milik rakyat itu dipakai Kopassus untuk membunuh, menyiksa dan memperkosa rakyat," ujar seorang warga. ***


Berakhirnya Tanda Luka

Pos Sattis atau lebih dikenal dengan Rumoh Geudong menjadi ‘neraka’ bagi masyrakat Pidie. Meledaknya pengungkapan kejahatan kemanusiaan di rumah yang mempunyai luas tanah 150 x 80 meter yang tidak jauh dari jalan raya Banda Aceh - Medan sungguh telah mengores luka berat. Tidak hanya masyarakat di luar Aceh, bahkan bagi masyarakat Aceh pun kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh aparat negara (Pa’i, -istilah TNI/Polri bagi rakyat Aceh) telah melampaui akal sehat mereka.

Menurut keterangan masyarakat setempat, sejak Maret 1998 sampai DOM dicabut pada tanggal 7 Agustus 1998 (sekitar lima bulan, sebelum rumah itu dibakar massa), Rumoh Geudong telah dijadikan tempat tahanan sekitar lebih dari 50 orang laki-laki dan perempuan yang dituduh terlibat dalam Gerakan Pengacau Keamana-Aceh Merdeka (GPK-AM). Namun, dari penuturan seorang korban, ketika korban yang sempat ditahan di Pos Sattis selama tiga bulan, dia telah menyaksikan 78 orang dibawa ke pos dan mengalami penyiksaan-penyiksaan. Jadi, bisa diperkirakan berapa banyak masyarakat Aceh yang telah disiksa atau pun dieksekusi di tempat ini jika kembali dihitung mulai tahun 1990 sejak pertama kali Pos Sattis digunakan sampai tahun 1998.

Saat Tim Komnas HAM melakukan penyisiran dan penyelidikan ke Rumoh Geudong, tim juga menemukan berbagai barang bukti seperti kabel-kabel listrik, balok kayu berukuran 70 cm yang sebagian telah remuk serta bercak-bercak darah pada dinding-dinding rumah.

Selain itu, tim juga melakukan penyisiran dengan penggalian tanah di halaman Rumoh Geudong yang diduga dijadikan tempat sebagai tempat kuburan massal. Setelah dilakukan penggalian, tim hanya menemukan tulang jari, tangan, rambut kepala dan tulang kaki serta serpihan-serpihan tulang lainnya dari kerangka manusia.

Bagi masyarakat Aceh, kebencian terhadap Rumoh Geudong menjadikan mereka sangat mudah disulut provokasi oknum-oknum yang punya kepentingan untuk memusnahkan bukti kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran HAM yang pernah dterjadi di rumah itu.

Tepat tanggal 12 Agustus 1998, sekitar 30 menit setelah Tim Komnas HAM yang dipimpin oleh Baharudin Lopa meninggalkan lokasi rumah tersebut dalam rangka mencari bukti-bukti kebenaran, akhirnya dibakar oleh massa. Tentu hal ini sangat disayangkan, karena telah hilangnya bukti penanda sejarah atau monumen historis adanya kekejaman dan kejahatan kemanusiaan yang telah terjadi di tempat ini.

Namun, lain lagi menurut ahli waris Rumoh Geudong. Pembakaran rumah tersebut ternyata sejak tahun 1945, pernah dicoba baka oleh sekelompok orang, lagi-lagi hasil itu gagal karena tiba-tiba muncul tiga ekor harimau dari rumah dan menyerang para pelakunya. Dan entah kenapa setelah dijadikan sebagai Pos Sattis oleh aparat, Rumoh Geudong malah justru dapat dibakar.

Menurut penuturan terakhir dari ahli waris, Teuku Djakfar Ahmad: “Mungkin Rumoh Geudong itu sendiri yang ‘minta dibakar’, karena tak ingin sejarahnya ternoda. Kalau dibikin monumen, mungkin orang hanya ingat Rumoh Geudong sebagai tempat pembantaian. Sedangkan sejarah perjuangannnya bisa-bisa dilupakan orang.”

Inilah kisah tragis Rumoh Geudong, pada masa Belanda dan Jepang, rumah besar ini justru menjadi pusat perjuangan membela agama dan merebut kemerdekaan Indonesia. Semoga kisah ini menjadi sebuah sejarah yang tidak pernah dilupakan oleh rakyat Aceh, kenangan yang telah membekas menjadi satu pelajaran yang bisa diambil untuk anak cucu nantinya.

Sumber : The Atjeh Cyber

Teungku Ahmad Dewi Salah Seorang Pejuang Seuramoe Mekkah dan Pelopor Penegakan Syariat Islam Di Aceh

Teungku Ahmad Dewi

Teungku Ahmad Dewi kelahiran Idi Cut, Aceh Timur adalah seorang tokoh ulama pendakwah (dai), seorang ulama yang berani dengan tegas melawan kebijakan-kebijakan pemerintah yang bertentangan dengan syariat Islam. Ia mengharamkan anak-anak Aceh menghafal Pancasila sebelum pandai membaca Alif Ba ta, karena menurut beliau lebih dahulu turun perintah menuntut ilmu agama daripada mengamalkan Pancasila.

Nama ayahnya Teungku Muhammad Husen, dan ibunya Dewi kelahiran Peudagee, Sumatera Utara, Beliau mengambil nama belakang dari nama ibunya Dewi, sehingga ia lebih dikenal dengan Ahmad Dewi. Kakeknya seorang ulama fiqh ternama Teungku Hasballah yang bergelar Teungku Chik di Meunasah Kumbang. Dari kecil beliau belajar ilmu agama Islam di dayah (pesantren) dan terakhir tercatat sebagai santri dari Pesantren Abu Abdul Aziz Samalanga. Ia pemimpin Pesantren BTM Bantayan Idi Cut, Aceh Timur.

Sebagai pendakwah kondang beliau diundang hampir ke setiap pelosok desa yang ada di seluruh Aceh dan dalam dakwahnya selalu berisikan sindiran-sindiran halus kepada pemerintahan untuk mengubah kebijakan-kebijakan yang tidak memihak kepada rakyat kecil dan meminta agar diberlakukan syariat Islam di Aceh. Ia dengan Barisan Tentara Merahnya menghalau muda-mudi yang bukan muhrim yang duduk berdua-duaan di tepi pantai Idi Cut. Ia berdakwah tujuh hari tujuh malam dengan mengundang para ulama-ulama seluruh Aceh untuk mencari solusi tegaknya syariat Islam di Aceh.

Akhirnya beliau dituduh subversif (merongrong ideologi Pancasila) dan berkali-kali keluar masuk penjara, dalam penjara pun beliau tetap berdakwah mengajak narapidana bertobat kembali ke jalan Allah. Setiap ada persidangan beliau di pengadilan selalu dipenuhi ratusan ribu massa untuk meyaksikan jalannya sidang sang dai. Pada waktu Aceh berstatus siaga, Operasi Jaring Merah dilancarkan di Aceh, Teungku Ahmad Dewi (sang pendakwah kondang) sampai hari ini tidak pernah muncul lagi di atas podium meyeruakan untuk tegaknya syariat Islam di Aceh. Kemungkinan beliau diculik dan dibunuh oleh yang anti syariat Islam. Walaupun Teungku Ahmad Dewi telah tiada, pengikut-pengikut setianya selalu memperjuangkan agar Aceh diberlakukan syariat Islam, dan akhirnya pemerintah mengumumkan syariat Islam harus ditegakkan di bumi Serambi Mekkah ini. Teungku Ahmad Dewi sebagai tokoh pelopor pemberlakuan syariat Islam di Aceh sampai hari ini tidak diketahui kuburannya.

Kamis, 29 Mei 2014

Budaya Aceh : Mulia Jamei Ranub Lampuan


Berdasarkan data dalam naskah Ensiklopedi Musik dan Tari Daerah Provinsi Daerah Istimewa Aceh yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1986, tari Ranub Lampuan mulanya hanya terdapat di Banda Aceh. Dalam waktu relatif singkat kemudian tari ini telah dijumpai pula di kabupaten/kota lainnya, terutama daerah pesisir Aceh.

Ranub ialah sirih, lam berarti dalam atau di dalam, dan puan merupakan cerana. Itu sebabnya, Ranub Lampuan secara harfiah diartikan sirih di dalam cerana.

Tari ini diciptakan sekitar tahun 1962 oleh Yuslizar, 34 tahun, warga Banda Aceh, penata tari pada group tari Pocut Baren. Tari ini ditarikan oleh tujuh penari perempuan remaja. Sebagai pengiring tari ialah musik modern (band atau orkestra) dan dapat juga dengan musik tradisional serune kalee dan geundrang.

Perlengkapan tari ialah puan (cerana) tujuh  buah yang terdiri enam buah untuk penari biasa, dan sebuah karah (puan memakai tutup) untuk primadona atau penari utama. Sirih yang dihidangkan kepada tamu sudah diramu, berbentuk piramida, dan biasanya pinangnya sudah direbus dengan air gula.

Tari ini berlatarbelakang adat-istiadat yang hidup dan tetap terpelihara di Aceh, khususnya adat menerima dan menghormati tamu. Hal ini terlihat melalui simbolik gerak tari penari maupun melalui perlengkapan tari, sirih yang disuguhkan kepada tamu. Gerak tari terlihat tertib dan lembut sebagai ungkapan keikhlasan menerima tamu.

Seperti gerak salam sembah, gerak lembut ke samping kanan kiri, dengan tangan mengayun adalah ungkapan kehidmatan mempersilahkan para tamu duduk, dan suguhan sirih adalah pelambang persaudaraan, sebagai mukaddimah dari setiap hajad dalam pergaulan hidup bermasyarakat.

Karena itu menurut jenisnya tari ini digolongkan sebagai tari adat/upacara. Penampilannya adalah guna menghormati tamu. Selain dipentaskan, tari ini adakalanya diadakan di tempat upacara penyambutan tamu negara, seperti di lapangan terbang dan lain-lain.

Dalam perkembangannya, menurut Tgk. Yusdedi mantan Koordinator Sanggar Pocut Meurah Inseuen Lhokseumawe, tari Ranub Lampuan banyak mengalami perubahan. “Seperti di Lhokseumawe, gerakan-gerakan tari itu banyak yang ditata kembali, dihilangkan lenggak-lenggok pantat para penari,” ujar Tgk. Yusdedi kepada atjehpost.com, Sabtu, 15 Maret 2014.

Musik pengiring tari Ranub Lampuan, kata Tgk. Yusdedi, mulanya adalah orkestra. Belakangan, kata dia, diganti dengan seureune kale setelah para peñata tari di Aceh mengadakan pertemuan membahas tari tersebut. Sementara jumlah penari tergantung luas tempat yang tersedia, namun tetap mengacu angka ganjil: lima atau tujuh perempuan.

“Tari Ranub Lampuan adalah tari persembahan di depan petinggi negara dan untuk menyambut tamu-tamu yang dimuliakan,” kata Tgk. Yusdedi.
 
***
Tari Ranub Lampuan yang pada akhirnya secara nyata menghidangkan sirih dalam cerana kepada tamu, kata Nurdin AR, itu melambangkan keramah-tamahan sebagaimana adat orang Aceh memuliakan tamu. “Seperti pepatah Aceh, mulia jamei ranub lampuan, mulia rakan mameh suara (menghormati tamu dengan sirih dalam cerana, memuliakan teman dengan suara manis),” ujar Nurdin AR, mantan Kepala Museum Aceh, dalam percakapan dengan atjehpost.com, belum lama ini.

Nun jauh sebelum munculnya tari Ranub Lampuan, kata Nurdin AR, masyarakat Aceh sudah membudayakan makan sirih, dan menghidangkan kepada tamu. Itu sebabnya, di rumah-rumah orang Aceh dulunya ada rampagoe, cubek, leusong, alee, cumboi, kerandan, ceureupa, cerana, batee ranup, dan lainnya. “Semuanya bernilai seni,” katanya.

Berdasarkan data dilansir situs museum.acehprov.go.id, salah satu koleksi Museum Aceh adalah cubek atau alat pelumat sirih. Situs itu menjelaskan, cubek terbuat dari kuningan, berbentuk silinder dengan hiasan garis-garis horizontal, bola-bola kecil, suluran. Cubek terbagi dua bagian, satu bagian lesung dan satu bagian lagi sebagai alat (alu penumbuknya).

“Budaya makan sirih di Aceh sejak jameun keureueunteun, zaman Kerajaan Aceh Darussalam sudah ada. Zaman silam tidak dihidangkan kopi kepada tamu, budaya minum kopi di Aceh berkembang sekitar 100 tahun terakhir, artinya memang baru,” ujar Nurdin AR yang kini Dosen Filologi Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh.

Peneliti sejarah, Denys Lombard, dalam bukunya “Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636)”, menceritakan tentang pengalaman salah seorang tamu asing yang berkunjung ke Kerajaan Aceh masa itu. Tamu tersebut, Beaulieu menuturkan bahwa setelah tamu asing menghadap, kemudian raja akan menjamu kapten dan perwira-perwiranya dengan sangat baik. Lalu ditawarkan sirih yang ditempatkan pada wadah emas yang besar dengan tutup dari zamrud.

Menurut kesaksian Usman Budiman mantan Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Lhokseumawe, zaman lampau di rumah-rumah orang Aceh ada batee ranub yang di dalamnya berisi sirih, pinang, gambir, bunga lawang, dan boh cuko. Ada pula plok gapu (tempat kapur), rampagoe (alat memotong pinang), dan cubek.

“Setiap tamu yang datang ke rumah disuguhkan sirih untuk menciptakan keharmonisan. Selain untuk tamu, indatu kita menyarankan kepada teman, keluarga termasuk cucunya agar makan sirih. Makanya indatu kita mewariskan nasehat: mulia wareh ranup lampuan, mulia rakan mameh suara,” kata Usman Budiman saat bercakap-cakap dengan atjehpost.com, Jumat, 14 Maret 2014.
Usman Budiman memperkirakan budaya makan sirih di Aceh berasal dari India. “Indatu kita dari India, orang makan sirih,” ujarnya.

Data dilansir situs resmi Perpustakaan Negara Malaysia, www.pnm.my, menyebutkan tradisi makan sirih merupakan warisan budaya silam, melebihi 3.000 tahun yang lampau atau zaman neolitik, dan diamalkan dengan meluas di rantau Asia Tenggara, hingga ke abad kini.

Tradisi ini tidak dapat dipastikan dari mana asalnya. Berdasarkan cerita-cerita sastra, ia dikatakan berasal dari India. Namun jika berdasarkan bukti linguistik, kemungkinan besar tradisi ini berasal dari kepulauan Indonesia.

Pelayar terkenal Marco Polo pada abad ke-13 telah menulis dalam catatannya bahwa terdapat segumpal sentil atau songel tembakau di mulut kaum India. Kenyataan ini dijelaskan pula oleh penjelajah terdahulu daripadanya seperti Ibnu Batutah dan Vasco Da Gama yang menyatakan terdapat masyarakat di sebelah Timur memakan sirih.

Di Malaysia, kata Usman Budiman, hingga kini masih berkembang budaya makan sirih. Kalau kita pergi ke daerah Klang, Malaysia, kata dia, di pinggir jalan kawasan industri itu banyak sekali orang India yang menjual sirih.

“Saya baru pulang dari Malaysia malam kemarin. Saat datang ke daerah Klang itu, saya bilang: nyoepat baro na makanan tanyoe (ini baru ada makanan kita/sirih)”.

Sirih yang dijual orang India di Negeri Jiran itu, menurut Usman Budiman, sama seperti sirih di Aceh, termasuk pinang, dan kapur.

Akan tetapi, kata Usman Budiman, budaya makan sirih di Aceh saat ini mulai langka. Itu sebabnya, tokoh adat yang pernah menjabat pimpinan dan anggota DPRD Aceh Utara selama 30 tahun ini, meminta pemerintah daerah melalui lembaga adat menghidupkan kembali budaya makan sirih agar tidak lenyap di bumi Aceh.

“Pejabat pemerintah dan tokoh masyarakat harus membudayakan kembali makan sirih, kalau datang tamu ke kantor dan rumah, suguhkan sirih. Jadi jangan hanya dipamerkan tari Ranub Lampuan, kemudian diambil sirih dimasukkan ke kantong, tidak dimakan,” ujar Usman Budiman.

***

Sekitar dua tahun sebelum lahirnya tari Ranub Lampuan yang diciptakan Yusrizal, di Aceh sudah ada lagu Ranub Lampuan. Menurut data dari Ensiklopedi Musik dan Tari Daerah Provinsi Daerah Istimewa Aceh yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, lagu Ranub Lampuan diciptakan oleh T. Djohan bersama Anzib sekitar tahun 1960.

Lagu Ranub Lampuan cukup popular di Aceh. Selain sebagai lagu daerah Aceh, lagu ini juga berfungsi mengiring tari Ranub Lampuan. Lengkapnya lagu ini adalah :

Saleum alaikom tengku baro troh
Tamong neu piyoh neuduek bak tika
Ranub Lampuan sinan ulon boh
Geunanto bungkoh bohru peut punca…. (2x)
Ranub lam uteun, pineung nyang luroh
Lawang jih lon boh meu ada kala
Nyang na mudahan, teungku neu pajoh
Jaroe lon siploh ateuh jeumala…. (2x).

Sejarah Singkat tentang Aceh


Pada zaman kekuasaan zaman Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam, Aceh merupakan negeri yang amat kaya dan makmur. Menurut seorang penjelajah asal Perancis yang tiba pada masa kejayaan Aceh di zaman tersebut, kekuasaan Aceh mencapai pesisir barat Minangkabau. Kekuasaan Aceh pula meliputi hingga Perak. Kesultanan Aceh telah menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan di dunia Barat pada abad ke-16, termasuk Inggris, Ottoman, dan Belanda.
Kesultanan Aceh terlibat perebutan kekuasaan yang berkepanjangan sejak awal abad ke-16, pertama dengan Portugal, lalu sejak abad ke-18 dengan Britania Raya (Inggris) dan Belanda. Pada akhir abad ke-18, Aceh terpaksa menyerahkan wilayahnya di Kedah dan Pulau Pinang di Semenanjung Melayu kepada Britania Raya.
Pada tahun 1824, Persetujuan Britania-Belanda ditandatangani, di mana Britania menyerahkan wilayahnya di Sumatra kepada Belanda. Pihak Britania mengklaim bahwa Aceh adalah koloni mereka, meskipun hal ini tidak benar. Pada tahun 1871, Britania membiarkan Belanda untuk menjajah Aceh, kemungkinan untuk mencegah Perancis dari mendapatkan kekuasaan di kawasan tersebut.

Kesultanan Aceh
Kesultanan Aceh merupakan kelanjutan dari Kesultanan Samudera Pasai yang hancur pada abad ke-14. Kesultanan Aceh terletak di utara pulau Sumatera dengan ibu kota Kutaraja (Banda Aceh). Dalam sejarahnya yang panjang itu (1496 – 1903), Aceh telah mengukir masa lampaunya dengan begitu megah dan menakjubkan, terutama karena kemampuannya dalam mengembangkan pola dan sistem pendidikan militer, komitmennya dalam menentang imperialisme bangsa Eropa, sistem pemerintahan yang teratur dan sistematik, mewujudkan pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan, hingga kemampuannya dalam menjalin hubungan diplomatik dengan negara lain. Sultan Aceh merupakan penguasa/raja dari Kesultanan Aceh, tidak hanya sultan, di Aceh juga terdapat sultanah (sultan perempuan).

Gelar-Gelar yang Digunakan dalam Kerajaan Aceh

* Tengku
* Tuanku
* Pocut
* Teuku
* Laksamana
* Uleebalang
* Cut
* Panglima Sagoe
* Meurah

Segala Hal Tentang Kerajaan Aceh

* Dalam
* Istana Darut Donya
* Cap Sikureung (cap sembilan)
* Meuligoe
* Gajah Putih
* Pasukan Gajah

Perang Aceh

Perang Aceh dimulai sejak Belanda menyatakan perang terhadap Aceh pada 26 Maret 1873 setelah melakukan beberapa ancaman diplomatik, namun tidak berhasil merebut wilayah yang besar. Perang kembali berkobar pada tahun 1883, namun lagi-lagi gagal, dan pada 1892 dan 1893, pihak Belanda menganggap bahwa mereka telah gagal merebut Aceh.
Dr. Snouck Hurgronje, seorang ahli Islam dari Universitas Leiden yang telah berhasil mendapatkan kepercayaan dari banyak pemimpin Aceh, kemudian memberikan saran kepada Belanda agar serangan mereka diarahkan kepada para ulama, bukan kepada sultan. Saran ini ternyata berhasil. Pada tahun 1898, J.B. van Heutsz dinyatakan sebagai gubernur Aceh, dan bersama letnannya, Hendricus Colijn, merebut sebagian besar Aceh.
Sultan M. Dawud akhirnya meyerahkan diri kepada Belanda pada tahun 1903 setelah dua istrinya, anak serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap oleh Belanda. Kesultanan Aceh akhirnya jatuh seluruhnya pada tahun 1904. Saat itu, hampir seluruh Aceh telah direbut Belanda.

Bangkitnya nasionalisme

Sementara pada masa kekuasaan Belanda, bangsa Aceh mulai mengadakan kerjasama dengan wilayah-wilayah lain di Indonesia dan terlibat dalam berbagai gerakan nasionalis dan politik. Aceh kian hari kian terlibat dalam gerakan nasionalis Indonesia. Saat Volksraad (parlemen) dibentuk, Teuku Nyak Arif terpilih sebagai wakil pertama dari Aceh. (Nyak Arif lalu dilantik sebagai gubernur Aceh oleh gubernur Sumatra pertama, Moehammad Hasan).
Saat Jepang mulai mengobarkan perang untuk mengusir kolonialis Eropa dari Asia, tokoh-tokoh pejuang Aceh mengirim utusan ke pemimpin perang Jepang untuk membantu usaha mengusir Belanda dari Aceh. Negosiasi dimulai di tahun 1940. Setelah beberapa rencana pendaratan dibatalkan, akhirnya pada 9 Februari 1942 kekuatan militer Jepang mendarat di wilayah Ujong Batee, Aceh Besar. Kedatangan mereka disambut oleh tokoh-tokoh pejuang Aceh dan masyarakat umum. Masuknya Jepang ke Aceh membuat Belanda terusir secara permanen dari tanah Aceh.
Awalnya Jepang bersikap baik dan hormat kepada masyarakat dan tokoh-tokoh Aceh, dan menghormati kepercayaan dan adat istiadat Aceh yang bernafaskan Islam. Rakyat pun tidak segan untuk membantu dan ikut serta dalam program-program pembangunan Jepang. Namun ketika keadaan sudah membaik, pelecehan terhadap masyarakat Aceh khususnya kaum perempuan mulai dilakukan oleh personil tentara Jepang. Rakyat Aceh yang beragama Islam pun mulai diperintahkan untuk membungkuk ke arah matahari terbit di waktu pagi, sebuah perilaku yang sangat bertentangan dengan akidah Islam. Karena itu pecahlah perlawanan rakyat Aceh terhadap Jepang di seluruh daerah Aceh. contoh yang paling terkenal adalah perlawanan yang dipimpin oleh Teungku Abdul Jalil, seorang ulama dari daerah Bayu, dekat Lhokseumawe.

Masa Republik Indonesia

Sejak tahun 1976, organisasi pembebasan bernama Gerakan Aceh Merdeka (GAM) telah berusaha untuk memisahkan Aceh dari Indonesia melalui upaya militer. Pada 15 Agustus 2005, GAM dan pemerintah Indonesia akhirnya menandatangani persetujuan damai sehingga mengakhiri konflik antara kedua pihak yang telah berlangsung selama hampir 30 tahun.
Pada 26 Desember 2004, sebuah gempa bumi besar menyebabkan tsunami yang melanda sebagian besar pesisir barat Aceh, termasuk Banda Aceh, dan menyebabkan kematian ratusan ribu jiwa.
Pasca Gempa dan Tsunami 2004, yaitu pada 2005, Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka sepakat mengakhiri konflik di Aceh. Perjanjian ini ditandatangani di Finlandia, dengan peran besar daripada mantan petinggi Finlandia, Marti Ahtisaari.

** Sumber (http://id.wikipedia.org/wiki/Aceh#Sejarah)



" Generasi yang cemerlang adalah generasi yang mampu menyumbangkan tenaga dan pemikiran untuk kemajuan negerinya, rakyat yang pintar adalah rakyat yang paling tidak mengetahui sejarah bangsanya, bangsa yang besar adalah bangsa yang paling tidak, mampu mempertahankan kebesaran sejarah negerinya dan mampu menyelamatkan bukti bukti kebesaran sejarah bangsanya, pemimpin yang hebat adalah pemimpin yang mampu memakmurkkan rakyat dan negerinya dan mampu membawa negerinya Ke puncak kejayaan "
 

Beberapa Sejarah Unik Nama Gampong di Aceh



Aceh memiliki budaya penyebutan nama daerah sesuai dengan kejadian atau peristiwa-peristiwa besar dan ketokohan seseorang.
MASYARAKAT Aceh memiliki budaya penyebutan nama daerah sesuai dengan kejadian atau peristiwa-peristiwa besar dan ketokohan seseorang. Nama daerah tersebut kemudian ditabalkan untuk gampong yang baru saja didiami dan tidak jarang masih dipakai hingga sekarang.
Nama-nama daerah atau gampong di Aceh tersebut terkadang terdengar unik, baik bagi pendatang maupun warga setempat. Lantas seperti apa nama-nama gampong tersebut ?

Samahani

Samahani merupakan daerah kelahiran Bupati Aceh Besar Mukhlis A Basyah alias Adun Mukhlis. Samahani merupakan salah satu kemukiman yang ada di Aceh Besar dan terkenal dengan roti selai rasa srikaya. Pertanyaannya, kenapa daerah tersebut dinamakan Samahani?
"Dulunya di daerah ini ada pedagang keturunan India bernama Ghani. Dia sering berjualan di daerah tersebut dengan mengusung barang dagangan di atas kepalanya," ujar dosen Sejarah FKIP Unsyiah, Teuku Abdullah Sakti saat dihubungi ATJEHPOSTcom, Senin, 26 Mei 2014.
Menurutnya, berdasarkan cerita rakyat, Ghani yang kerap melewati daerah ini sering dikerubungi elang yang ingin memakan barang dagangannya.
"Jadi elang sama-sama (terbang berkeliling) di atas kepala si Ghani ini. Lama kelamaan, masyarakat setempat kemudian menyebut daerah ini dengan Sama si Ghani yang kemudian menjadi Samahani," ujar pecinta hikayat Aceh ini.
Tokoh budaya Aceh ini mengaku banyak sekali nama-nama gampong yang memiliki latar belakang sejarah unik di Aceh. Dia pun merasa terpanggil untuk membukukan nama-nama unik gampong di seputar daerah Aceh tersebut meski hingga saat ini belum memiliki dana.
"Sudah pernah saya susun dan ringkas. Termasuk ringkasan dari sejumlah paper mahasiswa yang mengikuti kuliah sejarah Daerah Aceh yang saya asuh di FKIP Unsyiah. Tapi banyak pihak yang tidak berminat untuk menjadikannya buku," kata Teuku Abdullah.

Alue Leuhob

Selain Samahani, nama gampong unik lainnya seperti Alue Leuhob, Aceh Utara. Teuku Abdullah mengatakan daerah ini merupakan sebuah desa di kawasan transmigrasi Buket Hagu Cot Girek, Aceh Utara.
Sejak tahun 1984, desa Alue Leuhob sudah termasuk desa mandiri atau lepas dari pengelolaan Departemen Transmigrasi. Dengan demikian Alue Leuhob merupakan Desa ke -100 di Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara.
"Nama Alue Leuhob berasal dari dua kata, yaitu Alue dan Leuhob. Alue, artinya sungai kecil, sedangkan Leuhob berarti lumpur. Secara sederhana Alue Leuhob berarti: Sungai Kecil yang berlumpur," katanya.
Dari pengertian nama gampong tersebut, tentunya kita dapat membayangkan bahwa daerah ini merupakan salah satu daerah berawa dan dipenuhi lumpur. Sementara realita yang bisa ditemui di lapangan, desa ini “amat bersih” dari jebakan lumpur.

Lama Inong

Contoh unik nama gampong lainnya seperti Gampong Lama Inong di Aceh Barat Daya. Berdasarkan sejarah gampong tersebut diketahui pada zaman dulu, tiga orang dari Pidie merantau ke daerah ini. Salah satu di antaranya adalah Teuku Karim dari Desa Ujong Rimba, Pidie.
"Pada mulanya mereka menetap di daerah Nagan (Jeuram) dan mulai membuka seuneubok lada atau tempat bercocok tanam lada keumeukok (lada berekor)," kata Teuku Abdullah.
Ketiga anak muda itu memiliki bakat pergaulan yang baik. Di siang hari mereka bekerja di kebun lada, sedang pada malam hari mengajar anak-anak mengaji Alquran dan mengajar kitab-kitab kepada orang dewasa. Pengaruhnya semakin besar di kalangan rakyat daerah Seunagan
Melihat gelagat yang kurang menguntungkan dirinya, raja Jeuram mulai gelisah. Dicarilah cara-cara agar ketiga anak muda itu mau pindah ke tempat lain. Akhirnya, raja berhasil membujuk mereka berangkat ke Aceh Selatan karena di sanalah yang paling cocok untuk membuka seuneubok lada.
“Setelah diberi perbekalan oleh raja, berangkatlah Teuku Karim bersama dua kawannya ke Aceh Barat Daya (yang waktu itu masih disebut Aceh Barat Leupah),” katanya.
Ketika berada di Aceh Selatan, mereka menumpang tinggal di rumah seorang perempuan di suatu desa yang belum punya nama. Dengan diantar perempuan tua itu sebagai penunjuk jalan, barangkatlah mereka menjumpai raja Teuku Sarullah ke daerah Kuala Batee.
Kedatangan ketiga pemuda asal Pidie ini disambut baik oleh raja Teuku Sarullah. Kemudian, ketiganya menjadi tokoh-tokoh penggerak kemajuan rakyat di kerajaan Kuala Batee. Teuku Karim, sesudah jadi tokoh masyarakat bergelar Teuku Syik Karim.
Peristiwa menumpangnya tiga pemuda perantau di rumah seorang perempuan tua itu, akhirnya menjadi sejarah yang dikenang oleh rakyat kerajaan Kuala Batee. Penyebabnya, ketiga anak muda tersebut telah mengukir sejarah yang indah bagi masyarakat di daerah itu.
“Mungkin untuk mengenang peristiwa itu, maka daerah tempat menginap atau menumpang beberapa hari pemuda perantau itu, diberi nama Lama lnong, artinya perempuan lama atau perempuan tua,” ujar Teuku Abdullah.

Jeurat Manyang

Di Pidie, juga terdapat nama gampong yang unik: Jeurat Manyang. Gampong ini terletak di Kecamatan Mutiara, Pidie. “Dalam bahasa Indonesia arti harfiah dari Jeurat Manyang, yaitu kuburan tinggi,” katanya.
Teuku Abdullah berkisah, pada zaman periode awal kedatangan Islam di Aceh telah datang ke desa (yang sekarang bernama Jeurat Manyang) seorang ulama dari negeri Pasai (Kerajaan Samudra Pasai). Ulama tersebut mengendarai seekor gajah.
“Menurut sumber cerita orang-orang tua, ulama itu berasal dari suatu daerah bernama Jeurat Manyang (Rhang Manyang) di Kerajaan Samudra Pasai, Aceh Utara. Masyarakat menyebut ulama itu dengan gelar Teungku Jeurat Manyang,” katanya.
Setelah tinggal menetap di situ, Teungku Jeurat Manyang lalu mendirikan dayah (pesantren). Banyak sekali santri yang belajar ke dayah tersebut sehingga dikenal oleh masyarakat luas. Saat Teungku Jeurat Manyang meninggal, dayahnya terus dikembangkan oleh murid-muridnya.
“Akhirnya untuk mengenang dan menghormati ulama ini, maka tempat daerah lokasi dayah didirikan sekaligus tempat beliau dikuburkan dinamakan Kampung Jeurat Manyang. Jeurat Manyang, berarti di situ pernah berjasa Teungku Jeurat Manyang asal Pasai, Aceh Utara,” kata Teuku Abdullah.
Selain itu, kata dia, ada juga yang berpendapat penyebutan Gampong Jeurat Manyang disebabkan adanya makam tinggi (jeurat manyang) di daerah tersebut. “Kalau diperhatikan, letak kuburan itu memang pada tanah yang agak tinggi kalau dalam bahasa Aceh disebut Manyang. Sementara jeurat artinya kuburan. Jeurat Manyang makna harfiahnya Kubur yang tinggi,” katanya.

Kandang Cut

Kampung Kandang Cut termasuk dalam Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar. Menurut cerita seorang sesepuh desa, zaman dulu di desa ini berdiri sebuah kerajaan yang besar dan megah. Kerajaan itu memiliki sebuah benteng terletak di Cot Kuta. Setelah berdiri sekian lama, kerajaan itu pun runtuh.
Sesudah kerajaan lebur, maka yang tinggal hanya kuburan raja-raja dan keturunannya. Sebagai penghormatan kepada para raja yang dikebumikan di situ, kuburan inilah dinamakan Kandang.
“Mungkin karena ada Kandang Rayeuk besar di tempat lain, maka makam raja ini dinamakan Kandang Cut artinya Perkuburan kecil. Seterusnya, nama desa itupun digelar orang Kampung Kandang Cut; artinya Cut atau Pocut (orang bangsawan) dikuburkan,” kata Teuku Abdullah Sakti.
Dia turut merujuk catatan sejarah Aceh yang menyebutkan perkuburan “Kandang Cut” adalah makam-makam keturunan raja dari Kerajaan Aceh Darussalam. “Jadi bukan kuburan keturunan raja kerajaan yang berdiri di desa itu sendiri, sebagaimana dijelaskan sesepuh Desa Kandang Cut tersebut,” katanya.

Alue Peudeueng

Desa Alue Peudeueng terletak di Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat. Menurut kisah, dulu nama kampung ini adalah Kuntirek yang kemudian diubah setelah terjadinya perang antar daerah.
Wilayah ini diperintah oleh seorang pemimpin yang bergelar datuk. Pemimpin pertama bernama Datuk Raja Bujang. Wilayah kekuasaannya sangat luas, mulai Alue Gantung sampai ke Pasi Megat.
Merujuk catatan Teuku Abdullah Sakti, secara berurutan datuk-datuk yang pernah memerintah di daerah ini adalah Datuk Raja Bujang, Datuk Teungku Meuko Cumeh, Datuk Keucik Padang, Datuk Keucik Kuta Baro, Datuk Genta Ali, Datuk Gadong, Datuk Jali, Datuk Bali, Datuk Sampe, dan Datuk Kaoy yang merupakan pemimpin yang bergelar datuk paling akhir.
Setelah terjadi pembagian wilayah pada masa berkuasa datuk-datuk, maka desa itu dinamakan Alue Peudeueng. Berdasarkan arti kata, Alue berarti alur atau aliran sungai kecil. Sedangkan Peudeueng berarti pedang atau senjata tajam.
“Jadi Alue Peudeung artinya aliran sungai yang ada pedangnya. Menurut cerita, pada suatu peristiwa perebutan kekuasaan zaman dulu, jatuhlah ke sungai sebilah pedang dari salah satu pihak. Karena air sungai sangat curam deras, maka pedang itu tak dapat diambil lagi,” kata Teuku Abdullah.

Blang Panjo

Di Bireuen juga terdapat gampong bernama Blang Panjo. Jika merujuk kata-kata Blang dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sawah, sementara Panjo berarti batang kapuk. “Dulunya di gampong tersebut hanya ada persawahan dan bak panjo. Makanya dinamakan Blang Panjo,” ujar salah satu warga Blang Panjo, Iqbal Redha.
Saat ini, kata dia, gampong tersebut dihuni oleh 100 kepala keluarga dan telah dihuni sejak Belanda masuk ke Aceh.

Asan Bideuen

Gampong Asan Bideun merupakan salah satu desa yang ada di Bireuen. Penamaan gampong ini sangat menarik karena terkait erat dengan cerita gaib penduduk setempat.
Menurut sejarah penduduk setempat, penamaan gampong ini berasal dari cerita adanya kuntilanak yang sering bernyanyi di batang angsana atau sonokembang. Pohon ini adalah sejenis pohon penghasil kayu berkualitas tinggi dari suku Fabaceae. Kayunya keras, kemerah-merahan, dan cukup berat, yang dalam perdagangan dikelompokkan sebagai narra atau rosewood.
“Pohon asan (angsana) itu besar dan berhantu. Sering terdengar hantu perempuan bernyanyi (biduan) di pohon tersebut. Kemudian daerah ini disebut sebagai Gampog Asan Bideun,” ujar Iqbal.
“Kini pohon tersebut sudah ditebang meski gampong itu masih disebut sebagai Asan Bideuen,” katanya.

Meureudu

Meureudu merupakan ibukota Pidie Jaya usai pemekaran dari Pidie. Kota ini terletak di pesisir timur Kabupaten Pidie Jaya. Daerah ini terkenal dengan aneka masakan khas India yang lezat, seperti martabak kari dan nasi briani yang tidak berbeda jauh dengan negara asalnya, karena mayoritas penduduk Meureudu merupakan keturunan Hindi (India).
Penamaan nama Meurudu terkait dengan sejarah meluasnya wilayah Kerajaan Aceh Darussalam yang berpusat di Banda Aceh. Berdasarkan cerita turun temurun penduduk Pidie Jaya, Meureudu berasal dari kata Meurah Du yang artinya gajah duduk.
Konon dikisahkan pada saat Sultan Aceh melakukan perjalanan ke daerah-daerah dia menumpang seekor gajah. Namun saat tiba di Meureudu, gajah tersebut kelelahan dan beristirahat. Akibatnya, lokasi armada gajah milik kerajaan Aceh beristirahat ini kemudian disebut sebagai Meurah Du yang kemudian menjadi Meureudu. Lokasi gajah duduk milik Sultan Aceh tersebut berada di Gampong Meunasah Raya, Meureudu. Di sana terdapat sebuah monumen yang menceritakan asal mula penamaan Meureudu, yang bisa ditemui hingga sekarang.
Di catatan sejarah lainnya yang ditulis Ali Hasjmy mengungkapkan bahwa penamaan Meureudu berasal dari nama salah satu putera Makdum Malik Mansur dari kerajaan Peureulak. Ia terkenal dengan gelar Meurah Meria atau Tue Mersa.
Makdum Malik Mansur memiliki tujuh orang anak laki-laki, yaitu Meurah Jernang, Meurah Bacang, Meurah Itam, Meurah Puteh, Meurah Silu dan Meurah Mege. Ketujuh anaknya tersebut ditugaskan menyebarkan dakwah ke daerah-daerah lainnya di luar Peureulak seperti ke Seunagan, Barus, Beuracan, Kiran, Jeumpa Syahir Tanwi, dan Daya.
Nama Meureudu sendiri berasal dari Meurah dua, yakni Meurah Itam dan Meurah Puteh yang kemudian diberi nama oleh Sultan Malik Saleh (Meurah Silu) menjadi Meurdu.